Dua Sejoli, Syukur dan Sabar

Beberapa waktu lalu saya menyimak ceramah dengan tema yang menurut saya gampang-gampang susah untuk diterapkan, tetapi selama kita masih hidup Insyaallah dua sejoli yang tak terpisahkan bernama sabar dan syukur ini akan selalu mengikuti langkah kita. Jika saat ini kita belum menjadi hamba yang pandai bersabar dan bersyukur, maka serangkaian proses kehidupan akan mengajarkan kita tentang kedua hal itu. Terkadang harus berderai air mata untuk mencicipi rasa sebuah kesabaran dan harus terhimpit hingga sesak untuk mampu bersyukur ketika ada sedikit kelonggaran.

Sejenak teringat kejadian 2 tahun lalu, yang membuat saya harus antri di rumah sakit setiap seminggu sekali karena tangan kiri patah dan kepala harus dijahit karena kecelakaan. Alhamdulillah sekarang saya masih hidup dan masih berbagi kisah. Semua aktifitas dilakukan dengan satu tangan, iya tangan kanan saja. Untuk sujud dan ruku’ pun harus dengan satu tangan, silahkan dicoba supaya tahu rasanya.

Satu ketika saya menunggu antrian, ada seorang Ibu duduk di kursi roda, memperhatikan saya yang ribet dengan benda-benda di satu tangan saya dan dengan senyum beliau menyapa, “kenapa tangannya neng, kok di gendong?”.

“ Patah Bu, ketabrak motor”, sayapun nyengir.

“ Ya Alloh.. Trus kesini sama siapa?”, kata si Ibu.

“ Sendiri Bu”, jawabku masih sambil nyengir.

“ Ya Alloh, kasian amat itu ribet bawa tas sama rontgen”, si Ibu dengan kondisi duduk di kursi roda malah kasian melihat saya yang masih bisa lari kesana kemari “nggendong” tangan.

Padahal setelah saya berbincang sedikit dengan beliau mau periksa kemana, ternyata sakit yang diderita jauh lebih mengerikan dari kondisi saya saat itu. Ibu itu mengalami gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu. Jika tidak dilakukan maka seluruh tubuhnya akan teracuni oleh darah kotor yang sudah tidak lagi bisa disaring oleh ginjalnya. Bahkan ditangan kanannya tertanam sebuah alat seperti selang untuk mempermudah proses cuci darah.

“Alhamdulillah neng, tahun lalu Ibu sudah ga bisa apa-apa, ginjal sudah tidak berfungsi. Selang cuci darah dipasang di pembuluh darah leher dan semua makanan yang masuk terasa pahit”, kisahnya.

Allohu Akbar, saya merinding mendengar ceritanya. Tetapi satu hal yang patut kita contoh, dalam kondisi yang seperti itu, lisannya masih mengucap syukur karena masih diberi kesempatan membuka mata dan menghirup udara, berbahagia menikmati sisa usia walaupun dengan kondisi yang terkadang membuat orang lain yang melihat bisa merinding. Hati penuh rasa syukur tampak jelas tergambar melalui senyum si Ibu.

Iya !! Qolbun Syakiron, hati yang bersyukur atas setiap nikmat dan bersabar atas ujian yang hadir, itulah kunci kebahagiaan dalam diri seseorang.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrohim : 7)

Ujian tidak akan berhenti menghampiri diri seorang hamba, selama Alloh masih menyayanginya dan semua tergantung bagaimana kita menyikapi kondisi tersebut. Kita harus diuji untuk bisa naik kelas. Sebesar apapun ujian yang menyapa, “Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah : 286) dan ketika kita sadar bahwa segalanya milik Alloh SWT, maka yang terlontar adalah kalimat-kalimat penuh rasa syukur berbalut kesabaran. Alloh SWT kagum dengan hambaNya yang bersyukur atas nikmatNya dan bersabar atas ujian dariNya.

“Sungguh pohon kesabaran itu pahit rasanya, tetapi dia berbuah manis”

~Auliya Kareem”

1 thought on “Dua Sejoli, Syukur dan Sabar

    Lasykar

    (Januari 12, 2014 - 07:26)

    Alhamdulillah…. semoga kita bisa bersabar dan mensyukuri semua yang Allah Ta’ala berikan……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.