DIATAS ORANG ALIM ADA YANG LEBIH ALIM

Puncak dari Ilmu adalah Taqwa. Berserah diri pada Allah Ta’ala. Mengakui akan kelemahan diri pada Dzat yang Maha Tahu. Sehingga, sangatlah “ganjil” andai seorang yang hafal beberapa puluh hadist, mengklaim dirinya adalah yang paling alim. Padahal, ulama yang hafal Ratusan ribu hadist atau bahkan lebih, malah mengedepankan tawadlu’, “sumeleh” atas kekuasaan Allah Ta’ala.

*****

Suatu ketika, Imam Ibnu ‘Arabi yang terkenal sebagai orang “Ampuh”, berlayar di samudra. Tiba-tiba badai menerjang. Kapal yang beliau tumpangi oleng. Seperti biasa beliau tenang. Karena biasanya setiap ia berdo’a, apa yang beliau minta hampir dipastikan terkabul. Melihat badai yang semakin menggila, beliau berdo’a dengan do’a yang antik, “Tenanglah wahai samudra yang mempunyai dua lautan. Lautan kekuasaan dan lautan Ilmu”. Seketika, lautan yang tadinya mengganas, menjadi tenang. Namun, tiba-tiba dari dasar laut muncul sesosok hewan yang bisa berbicara, tanpa di silahkan, hewan itu langsung mengajukan pertanyaan:

“Kalau kau memang bisa menundukkan dua lautan. Lautan kekuasaan dan ilmu. Jawablah pertanyaan ini. Bagaimana Iddah seorang perempuan yang suaminya tiba-tiba di rubah jenis kelaminnya oleh Allah? (Dari lelaki menjadi perempuan atau dari lelaki menjadi batu). Apakah menggunakan Iddah orang yang meninggal atau orang yang tertalak?”.

Imam Ibnu ‘Arabi tercenung, tercekat. Karena setelah memutar otaknya yang cemerlang. Beliau tidak menemukan jawabnya!!, akhirnya hanya satu kata yang terlontar dari mulutnya, “AKU TIDAK TAHU”.

Mendengarnya, hewan itu berkata, “Baiklah, akan aku beritahu jawabnya. Kalau ia dirubah menjadi sesuatu yang mempunyai nyawa. Maka, Iddahnya adalah Iddah Talak. Kalau ia dirubah menjadi sesuatu yang tidak bernyawa. Maka, Iddahnya adalah Iddah orang yang meninggal”.

*****

Hal yang hampir sama-pun juga terjadi pada Imam Muqotil bin Sulaiman. Merasa sudah menguasai segala jenis ilmu. Beliau mengajukan pertanyaan, atau lebih tepatnya “menantang” orang untuk bertanya apa saja padanya, sampai beliau berkata, “Tanyalah segala hal, yang ada di bawah ‘Ars sampai yang ada di bawah Bumi”.

Tiba-tiba ada yang mengacungkan tangan dan bertanya:
“Aku tidak akan bertanya padamu kecuali sebuah pertanyaan yang telah tercantum dalam Al Qur’an. Apa warna Anjing Ashabul Kahfi?”.

Imam Muqotil terdiam!!

*****

Maka, seyogjanya. Bagi orang alim untuk “meletakkan debu di kepalanya”,,,, Tawadlu’,,,, andhap Ashor,,,, merendah. Dan menyadari bahwa ilmu dan segala hal yang merupakan keunggulannya. Hanyalah sebuah titipan Ilahi.

——-
Wallahu a’lam
Admin Web/FB Alfataah Pule. Dikutip dari Kitab Khasyiah Ibnu hamdun Li Alfiyyah Ibn Malik Juz 2 Hal: 213 dengan sedikit penambahan dan penyesuaian bahasa.
Jum’ah Al Mubaarakah
Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *