Cerita dari Lereng Gunung Kelud

Membaca sebait kisah tentang Khalifah Harun ArRasyid ketika negerinya dilanda musibah dan bencana bertubi-tubi, Sang Khalifah mendapati seorang yang ditangkap karena bernyanyi dan menari demi meluluhkan hati majikannya agar berkenan membagi sedikit gandum untuk makan.

Lalu Khalifah Harun ArRasyid berkata, “Kalau memang benar seperti itu, berarti engkau mengandalkan orang lain. Andalkanlah Alloh, karena bertawakkal kepadaNYA lebih baik. Dan hanya Alloh lah yang bisa menyelamatkan keadaan masyarakat saat ini”.

Nasehat Sang Khalifah, sangatlah jauh dari apa yang sering kita lihat di masyarakat kita. Adalah hal yang lumrah kita jumpai sekelompok orang, sekelompok artis melakukan konser untuk mengumpulkan dana sumbangan bagi korban-korban bencana alam atau bahkan untuk disumbangkan kepada seseorang yang sedang ditimpa musibah. Mereka bernyanyi untuk sejumlah rupiah agar bisa disumbangkan.

Tetapi kali ini saya menemukan sedikit cerita ditengah dahsyatnya musibah letusan gunung Kelud yang bahkan debu vulkaniknya dibagi rata di seluruh pulau jawa.

Sebutlah namanya Sarah, salah seorang yang tergerak hatinya membantu sesama yang sedang terkena musibah. Tiba-tiba ada suara panggilan masuk di handphonenya menyampaikan bahwa ada sejumlah siswa sekolah dasar membutuhkan bantuan masker.

Tak berapa lama, Sarah mendapat pesan singkat dari seorang pengajar, panggillah namanya Bu Aida,  bahwa dia dan murid-muridnya sangat membutuhkan masker, karena stok masker di wilayah Kediri sudah habis dan debu vulkanik letusan gunung kelud itu cukup membuat sesak pernafasan. Bu Aida memikirkan kondisi kesehatan murid-muridnya.

Tanpa pikir panjang, Sarah langsung menyiapkan sejumlah masker yang dibutuhkan oleh Bu Aida dan tidak berapa lama dia mengantarkan ke posko penyaluran donasi untuk korban erupsi gunung Kelud.

Hari itu, Bu Aida ingin mengambil masker langsung dan ingin sekali bertemu dengan Sarah, tetapi karena kondisi tidak memungkinkan, mereka hanya berkomunikasi melalui handphone.

“Bu Aida, saya titipkan satu kardus maskernya di posko, silahkan diambil saja karena saya langsung pulang”, suara Sarah diujung telpon.

Hingga keesokan harinya, Bu Aida baru menuju posko untuk mengambil masker yang sudah disiapkan  lalu  dibagikan kepada murid-muridnya.

Sang Kepala Sekolah dimana Bu Sarah mengajar pun bertanya dari siapa Bu Aida mendapatkan sejumlah masker itu. Padahal stok masker sudah habis dan bantuan belum ada yang sampai ke daerah mereka.

“Saya belum tahu siapa yang memberikan sejumlah masker itu Pak. Namanya Sarah. Tanpa prosedur apapun, Sarah menyiapkan masker ini untuk dibagikan kepada siswa disekolah kita”.

Akhirnya Bu Aida pun memberanikan diri bertanya kepada Sarah, “Saya belum tahu siapa Sarah, bahkan belum sempat bertatap muka, tapi sedikitpun tidak ada keraguan dalam diri Sarah untuk menolong kami. Kemarin saya bingung mau cari masker kemana tapi inilah cara Alloh menolong saya dan seluruh siswa yang membutuhkan masker. Saya menjadi semakin merasa kecil sekali sekali dihadapan Alloh SWT dengan caraNYA menolong setiap hamba”, kata Bu Aida kepada Sarah.

“Apalah artinya donasi kami Bu, jika Alloh tidak mempertemukan kami dengan orang-orang yang membutuhkan. Terimakasih sudah menyambut niat baik kami “, jawab Sarah.

Mendengar kisah nyata diatas, semoga kita bisa mengambil sedikit pelajaran bahwa ketika kita berserah diri kepada Alloh, maka saksikanlah pertolongan Alloh yang datang dari arah yang tak terduga.

~Auliya Kareem~

1 thought on “Cerita dari Lereng Gunung Kelud

    Azmi

    (Februari 24, 2014 - 06:20)

    Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.