Burung Pembawa Rezeki (Kisah Raja Ibrahim Bin Adham dan penyebab taubatnya)

Burung Pembawa Rezeki (Kisah Raja Ibrahim Bin Adham dan penyebab taubatnya)
Oleh: Chusnul Chotimah (Ponorogo)

Suatu hari ketika ia pergi berburu dan beristirahat di suatu tempat. Pas menyajikan makanan, tiba-tiba datang seekor burung gagak menyambar roti di atas alas dengan paruhnya.

Raja Ibrahim yang heran dengan kejadian itu, bergegas mengejarnya. Sayang burung itu terbang ke arah sebuah gunung dan menghilang dari pandangan Raja Ibrahim.

Raja Ibrahim terus mengejarnya dan akhirnya dari kejauhan ia melihat burung itu. setelah Raja Ibrahim dekat dengan burung itu, si burung terbang kembali. Kemudian ia melihat seorang laki-laki yang diikat dengan tali di lehernya dengan tidur miring. Melihat keadaan atau kondisi laki-laki itu, Raja Ibrahim cepat-cepat turun dari kudanya dan melepas talinya, Raja bertanya: “kenapa kamu bisa seperti ini, bagaimana ceritanya?”.

Laki-laki itu menjawab: “Sebenarnya aku adalah pedagang. Aku dirampok. Semua hartaku diambil ludes perampok. Mereka berniat membunuhku. Lalu aku diikat dan dibuang di hutan ini. Tapi anehnya, selama 7 hari ini, selalu ada seekor burung yang mendatangiku dengan membawa makanan di paruhnya, hinggap didadaku, menyobek/meremuk roti dan menyuapkannya di mulutku. Allah tidak pernah membiarkanku kelaparan selama 7 hari itu”.

Kemudian Raja Ibrahim menaiki kudanya dan membonceng laki-laki itu sampai ke tempat tinggalnya,

Lantaran kejadian itu. Raja Ibrahim bertobat kepada Allah Ta’ala. Lalu ia berada atau berhenti dirumahnya bersyukur kepada Allah dan memuji kepada Dzat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian Ia melepas bajunya yang bagus dan memilih memakai baju bulu (baju biasa ) serta memerdekakan semua budak-budaknya, mewakafkan semua pekarangan dan miliknya, memungut tongkat dan berangkat ke Makkah tanpa bekal dan tanpa kendaraan. Beliau senantiasa bertawakkal, tiada kesusahan sebab tanpa bekal dan dengannya ia tidak pernah kelaparan sampai tiba di Makkah,

Allah Ta’ala berfirman:

ومن يتوكل على الله فهو حسبه….
“Barang siapa berpasrah kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (Qs. ath-Thalaq ayat: 3).

Dikutip dari Kitab al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah adalah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury Hal: 7

Melihat cerita di atas, aku teringat dengan bolo-bolo ngetel (masak). Pernah pas pagi-pagi ro’an masak mau ada kumpulan Pak Ustadz. Nah, pas itu lhakok ulam’e (ikan: jawa) di curi kucing. Lumayan lhoo. Diperkirakan hampir setengah kilograman. Tahu ikannya di gondol kucing. Mbak-mbak santri sama menjerit histeris (Gregetan dengan kucing), di tambah kucingnya naik pagar, “Duhh…. alamat ulam’e tidak bisa di selamatkan, so pasti mbak-mbak semakin menjerit … hehehe”.

Ketepatan pas itu Mbah Ibu (Bu nyai sepuh) mengetahui dan dawuh dengan tertawa halus: “Ualah to mbak-mbak … Yo ben … Ngono ae kok mbok getuni terah wis bagiane/rejekine kucing (Oalah to mbak-mbak… biarin, tidak apa-apa, gitu aja kok disesali, memang sudah rezekinya kucing) …Subhanallah….

Mengingat kejadian itu aku semakin kagum dengan kesabaran beliau (Mbah Ibu).

يا لطيفا بخلقه، يا عليما بخلقه، يا خبيرا بخلقه، ألطف بنا يا لطيف ياعليم يا خبير…آمين

Wallahu A’lam bis-Shawaab
Admin Web/FB Al-Fattah Pule
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.