Arti Penting Shalawat Dan Maulid Nabi Bag. I

“Ulang tahun merupakan saat istimewa bagi seseorang. Tidak sedikit orang mempersiapkan acara tertentu untuk menyambut hari istimewa tersebut. Maulid nabi adalah hari ulang tahun rasulullah saw, sebuah ulang tahun yang luar biasa bagi umat islam. Tapi sayang, masih ada orang islam yang tidak menyukainya. Kasihan mereka”.

 

Bulan Rabi’ul Awal adalah bulan baik bagi umat islam. Itu karena pada bulan ketiga dalam kalender hijriyah tersebut terdapat hari kelahiran manusia terbaik sepanjang zaman, Rasulullah Muhammad SAW, yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal. Untuk itulah Rabi’ul Awal dikenal juga dengan nama Maulid atau Mulud yang bermakna hari kelahiran. Sesuai dengan namanya, pada bulan Maulid banyak orang Islam memperingati kelahiran Rasulullah SAW tersebut dengan perayaan meriah. Perayaan itu dinamakan Maulidan atau Mauludan.

Dalam perayaan Maulidan tersebut biasanya tidak akan lepas dari pembacaan shalawat kepada  Baginda Rasulullah SAW. Memang tidak ada perintah hanya shalawat. Seluruh kalimat thaiyibah dan amal shaleh baik dibaca dan dikerjakan pada perayaan tersebut. Membaca Al-Qur’an, pengajian, bersedekah, semuanya baik. Hanya saja shalawat bernilai paling tepat untuk mengisi perayaan Maulid, sebab shalawat lebih banyak berisi do’a dan puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian perayaan Maulid yang diisi dengan memperbanyak membaca shalawat termasuk menjalankan perintah Allah dalam Surat Al-Ahzab 56. Bermacam redaksional shalawat, namun yang paling banyak dibaca saat perayaan Maulid adalah barzanji, diba’ dan Simtud Duror, karena dalam ketiga shalawat tersebut banyak dikisahkan tentang kelahiran dan sejarah perjalanan Rasulullah SAW.

HUKUM PERAYAAN MAULID

Tidak ada perintah langsung bagi umat Islam untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah Rasulullah juga tidak pernah merayakan, apalagi menyuruh umatnya, untuk memperingati hari kelahirannya. Bermula dari sinilah timbul perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Ada yang tidak mau merayakan Maulid Nabi, lalu menuduh bid’ah karena tidak ada tuntunan; pendapat kedua merasa senang dan merayakan Maulid Nabi dengan menggunakan dalil umum.

Pendapat pertama, kebanyakan dari kelompok Wahabi, mendasarkan pada dalil karena tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah SAW maka itu termasuk ibadah yang mengada-ada. Ibadah yang mengada-ada yang tidak ada tuntunan dari nash namanya bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Dalilnya adalah Hadits kullu bid’atin dlalalatun wakullu dlalalatin finnar yang diartiakan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan dalam neraka. Selesai.

Sedangkan pendapat kedua, yang banyak diikuti para ulama nusantara (khususnya ulama nahdliyin dan alawiyin), perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang penting dan bernilai ibadah. Apalagi kalau rangkaian acara diisi dengan bakti social, pembacaaan shalawat dan ayat- ayat suci Al- Qur’an, pengajian dan do’a. Semuanya adalah amaliah hasanah yang diperintahkan melalui dalil-dalil umum. Lalu di mana sesatnya ?

Soal tidak adanya perintah atau tuntunan langsung, hal itu tidak berarti setiap amalan dengan sendirinya bernilai sesat. Dalam kaidah ushul fiqih ada kalimat attarku la yadullu alat tahrim yang artinya meninggalkan tidak (mesti) menunjukkan keharaman; atau dengan bahasa lain ‘adamul fi’li laisa dalilan bal huwa ‘adamu dalil : tidak adanya  (contoh) perbuatan bukanlah dalil (yang menujukkan larangan), tapi menunjukkan tidak adanya dalil. Karena tidak adanya dalil yang melarang, maka dipakailah dalil umum. Amaliah yang dilarang adalah yang memang telah adanya larangan secara jelas. Di sinilah sebenarnya makin terlihat keluasan ilmu para ulama nusantara dan kepicikan kelompok yang mengaku sebagai penganut Sunnah.

“Di sinilah sebenarnya makin terlihat keluasan ilmu para ulama nusantara dan kepicikan kelompok yang mengaku sebagai penganut Sunnah”.

 

BENTUK- BENTUK MAULID

Pada dasarnya merayakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu bentuk pengungkapan rasa gembira atas kelahiran Rasulullah, syukur atas kelahiran beliau dengan selamat dan sekaligus pengungkapan kecintaan kepada beliau karena salah satu tanda orang cinta adalah sering menyebut namanya dan rela berkorban apa saja untuk yang dicintainya.

Soal bentuk acara Maulidan, tidak ada ketentuan, sepanjang tidak dalam bentuk kemaksiatan. Di Desa Sumbermulyo, Jogoroto, Jombang misalnya, diadakan perayaan besar dengan  bakti social, khitanan masal, lomba-lomba, lelang dan pengajian umum. Di Bawean biasanya dilakukan perayaan Maulud yang meriah; di Surakarta dan Yogyakarta dikenal dengan nama Sekaten dan Grebeg Mulud; di Sidoarjo ada lelang bandeng kawak; di Pekalongan ada kirab mauludan, dsb.

Tidak ada bentuk khusus perayaan Maulid, namun secara umum Maulid Nabi banyak diisi dengan pembacaan shalawat dan pengajian. Shalawat berfungsi sebagai pengungkap rasa cinta dan do’a kepada Rasulillah sedangkan pengajian berfungsi sebagai sarana dakwah untuk mempertebal keimanan kepada Allah SWT. Tentang rangkaian acara pendukung adalah bentuk pengembangan kreatifitas masing-masing daerah, yang itu juga mendukung dakwah islam.

 

MENGAPA HARUS MAULIDAN?

Berbeda dengan kelompok Wahabi yang pathok bangkrong menolak Maulidan dengan dalil tidak ada contoh dari Rasul, para ulama Ahlus Sunnah Waljamaah malah menganjurkan pelaksanaan acara tersebut. Prof. Dr. Saiyid Muhammad bin Alawi Almaliki Alhasani, ulama ahli Hadits internasional, merinci setidaknya ada 20 alasan mengapa umat Islam perlu merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Alasan pertama, perayaan Maulid Nabi adalah ungkapan rasa bahagia dan gembira atas kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Mengutip riwayat dari Imam Bukhari, dikisahkan, setiap hari senin siksaan Abu Lahab diringankan oleh Allah swt, karena ia pernah merasa senang atas kelahiran Rasulullah SAW dan memerdekakan budak bernama Tsuwaibah karena budak perempuan itu telah memberikan kabar kepadanya tentang kelahiran Nabi Muhammad  SAW.

Jika Abu Lahab yang kafir dan dicela dalam Surat Al-Lahab dengan kekal di neraka saja mendapat manfaat akibat rasa senang atas kelahiran Rasulillah  SAW, apalagi umat Islam yang setiap hari menjalankan shalat dan berpuasa Ramadlan? sebuah logika berdalil yang sangat  mudah dicerna oleh siapa saja yang hatinya terbuka.

Alasan ke-20 yang dikemukakan Saiyid Maliki, peringatan Maulid Nabi SAW adalah upaya menghidupkan kenangan kepada Al-Musthafa SAW, yang hal itu jelas disyariatkan, sebagai perbandingan, mayoritas amalan haji misalnya, adalah menghidupkan kembali kenangan yang pernah disaksikan dan sikap-sikap yang terpuji. Sa’i antara Shafa dan Marwa, melempar jumrah dan menyembelih qurban di Mina, kesemuanya adalah kejadian masa lampau yang dihidupkan kenangannya oleh kaum muslimin dengan memperbarui modelnya.

Kalau Maulid diisi dengan pembacaaan shalawat, itu sudah tepat karena antara Maulid dan shalawat bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya tak terpisahkan. Maulid adalah hari kelahiran Nabi sedangkan shalawat berisi pujian dan do’a kepada Nabi. Hanya orang- orang tidak mengerti yang sampai sekarang masih mempersoalkan arti perayaan Maulid Nabi.

Oleh: KH. Moh. Syamsuddin al-Aly

6 thoughts on “Arti Penting Shalawat Dan Maulid Nabi Bag. I

    azmi

    (April 2, 2013 - 09:10)

    Nderek ngaos….

      firdaus

      (April 2, 2013 - 10:00)

      tanda org alim adalah selalu dam merasa semakin bodoh,

    azmi

    (April 2, 2013 - 10:34)

    Cuma ber-ikhtiyar MENGHILANGKAN KEBODOHAN YANG TIADA PERNAH SIRNA. pangestunipun…..

    lasykar

    (April 2, 2013 - 14:13)

    menanti wejangan romo yai selajengipun,,,,,,, sabar menanti….

      firdaus

      (April 2, 2013 - 15:15)

      “SELAMAT TINGGAL ULAMA’BESAR” matahari sdh terbenam dan rembulan sdh hilang cahayanya yg ada tinggal lilin2 di pojok sana mari kita bersatu untuk mengisi zaman maderen yg sering kali menjadi mudhorot

    lasykar

    (April 2, 2013 - 21:36)

    insya alloh… amin amin amin… yaa mujibassaailiin….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *