Arti Penting Shalawat Dan Maulid Nabi III (habis)

Asal Usul Sebagian Shalawat

“Bershalawat memang mudah. Cukup ucapkan allahumma shalli ala muhammad, insya  allah pahala  sudah diraih. Namun ada juga beberapa teks shalawat yang panjang. Sebagian besar justru bukan langsung berasal dari rasulullah saw, melainkan ciptaan dari para ulama”.

 

Dikalangan kaum Muslimin Indonesia, khususnya nahdliyin, amat banyak teks shalawat yang beredar dan diamalkan. Ada shalawat Nariyah, shalawat Munjiyat, shalawat Fatih, Barzanji, Diba’, shalawat Badar, dan lain sebagainya.

Kaum muslimin yang membaca shalawat tersebut dilatar belakangi oleh tujuan yang berbeda-beda. Ada yang membaca karena bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan agar semakin dekat dengan Rasulullah SAW. Ada yang membaca karena bertujuan ingin hajatnya dikabulkan oleh Allah SWT.

Teks-teks shalawat itu sebagian besar diciptakan setelah Rasulullah SAW wafat. Para ulama menciptakannya sebagai salah satu wujud kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW. Beberapa kisah menarik juga mewarnai penciptaan shalawat tersebut. Berikut ini adalah sebagian kisah yang dihimpun Aula.

 

SHALAWAT NARIYAH

Redaksi shalawat ini berbunyi demikian :

اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةََ كَامِلة وسلّم سلاما تامّا على سيّدنا محمّد الّذيْ تنْحلّ به الْعقد وتنْفرج به الْكرب وتقْضى به الْحوائج وتنال به الرّغائب وحسْن الْخواتم ويستسقى الْغمام بوجهه الْكريم وعلى اله وصحبه فيْ كلّ لمحة ونفس بعدد كلّ معلوم لك

‘’Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan ( kesusahan ) dan terbebas segala kesulitan. Dan dengannya pula tertunaikan segala hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman ( kebahagiaan ) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang Engkau miliki.’’

Ada beberapa nama yang disematkan terhadap Shalawat Nariyah ini. Ada yang menyebutnya Shalawat Tafrijiyah, karena sholawat ini sangat ampuh dan mujarab dalam mengeluarkan seseorang dari kesulitan. Ada yang menyebutnya Shalawat Qurthubiyah, mungkin karena yang pertama kali menyebarluaskan khasiatnya adalah Imam al-Qurthubi, seorang ulama terkemuka dari Cordova, Andalusia yang sangat populer. Adapula yang menyebutnya Shalawat Taziyah, nisbat kepada Imam Abul Mawahib at-Tazi, yang menyebarluaskan bacaan shalawat tersebut di seantero Afrika. Dan yang paling populer, disebut Shalawat Nariyah, nisbat kepada nar yang artinya api, karena keampuhan shalawat tersebut dalam mempercepat terkabulnya hajat seseorang laksana api yang sangat cepat melahap apa saja yang disentuhnya.

Shalawat Nariyah tersebut biasanya dibaca sebanyak 4444 kali, bagi orang yang sedang mempunyai hajat. Untuk dibaca sebagai rutinitas harian, ada yang menganjurkan membacanya 11 kali setiap selesai sholat, atau 41 kali setelah sholat shubuh, atau 100 kali setiap hari, atau 313 setiap  hari dan atau 1000 kali setiap hari. Hal ini dibaca untuk memudahkan rizqi, melancarkan ekonomi dan memudahkan terkabulnya aneka hajat lainnya. Demikian khasiat Shalawat Nariyah yang dipaparkan oleh Syaikh an-Nabhani dan Syaikh an-Nazili.

 

SHALAWAT MUNJIYAT

Redaksi Shalawat tersebut berbunyi begini :

اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الاهوال والافات وتقضي لنا بها جميع الحاجات وتطهر نا بها من جميع السيئات وترفعنا بها عندك اعلى الدرجات وتبلغنا بها اقصى الغايات من جميع الخيرات في الحياة وبعد الممات

‘’Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, yang dengan rahmat itu Engkau akan menyelamatkan kita dari semua keadaan yang mendebarkan dan dari semua  cobaan yang dengan rahmat itu Engkau akan mendatangkan kepada kita hajat, Yang dengan rahmat itu Engkau akan membersihkan kita dari semua keburukan / kesalahan. Yang dengan rahmat itu Engkau akan mengangkat kita kepada setinggi –tinggi derajat. Yang dengan rahmat itu pula Engkau akan menyampaikan kita kepada sesempurna-sempurnanya semua maksud dari semua kebaikan pada waktu hidup dan setelah mati.’’

Shalawat di atas disebut dengan Shalawat Munjiyat yang artinya penyelamat, karena khasiatnya dapat menyelamatkan seseorang dari malapetaka dan marabahaya.

Mengenai tata cara membaca dan khasiat Shalawat Munjiyat ini, Imam Hasan bin Ali al-Aswani berkata, bahwa seseorang yang sedang memiliki hajat yang sangat penting atau menghadapi  malapetaka yang berat, hendaknya membaca Shalawat Munjiyat ini 1000 kali. Mengenai asal usul Shalawat Munjiyat ini, Imam Majduddin al-Fairuzabadi meriwayatkan dalam kitabnya, as-Shilat wal Busyar, bahwa suatu ketika Imam Musa ad-Dharir, seorang ulama yang shaleh, naik perahu bersama rombongan. Setelah tiba di tengah lautan, badai dan angin segera menghantam perahu tersebut. Lalu orang-orang di atas perahu tersebut merasa ketakutan, khawatir perahu yang mereka tumpangi akan karam. Akhirnya, Musa ad-Dharir, bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan memerintahkan para penumpang perahu tersebut membaca Shalawat Munjiyat. Setelah mereka membaca dapat 300 kali, badai dan angin yang menghantam perahu tersebut segera hilang. Dan selamatlah para penumpang tersebut. Demikian cerita yang dikisahkan oleh Imam Majhuddin dalam as-Shilat wal Busyar, dan dikutip oleh banyak ulama seperti al-Hafizh as-Sakhawi dalam al-Qaulul Badi’, Ibnu Hajar al-Haitami dalam ad-Durrul Mandhud dan lain-lain.

 

SHALAWAT FATIH

Redaksi Shalawat Fatih tersebut adalah begini :

اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما اغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي الى صراطك المستقيم وعلى اله وصحبه حق قدره ومقداره العظيم

‘’Ya Allah curahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalanMU yang lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, kepada keluarganya, dan kepada semua shahabatnya dengan sebenar-benar  kekuasaan-NYA yang Maha Agung.’’

Shalawat Fatih ini populer di dunia Islam, lebih-lebih setelah diadopsi kelompok Tarekat Tijaniyah sebagai salah satu bacaan utama bagi para pengikutnya. Shalawat Fatih ini disusun oleh seorang ulama dan waliyullah terkemuka, yaitu Imam Syamsuddin Abul  Makarim Muhammad bin Abul Hasan al-Bakri as-Shiddiqi, seorang waliyullah yang masih keturunan Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, ulama terkemuka dan mufti madzhab Syafi’i di Makkah al-Mukarramah menuturkan tentang khasiat Shalawat Fatih tersebut.  Bahwa orang yang rutin membaca Shalawat Fatih 100 kali dalam setiap hari, maka hatinya akan terbuka untuk melakukan kebaikan dan semua hajatnya akan dikabulkan oleh  Allah. Demikian asal usul beberapa shalawat populer di dunia Islam yang dicatat oleh Syaikh Yusuf an-Nabhani dalam kitabnya Afdhalus Shalawat, syaikh an-Nazili dalam khazinatul asrar dan lain-lain.

 

BARZANJI

Dikalangan nahdliyin, nama Barzanji dikenal luas sekali. Sebuah kitab yang berisi syair-syair ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab Barzanji dibaca di saat mereka mempunyai hajat, misalnya peringatan Maulid Nabi, upacara pemberian nama bayi, upacara pernikahan, khitan dan lain sebagainya. Acara seperti itu biasanya dikenal dengan nama Barzanji atau Barzanjian.

Kitab Barzanji ditulis oleh Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husain bin Abdul Karim. Lahir tahun 1690 M, meninggal pada tahun 1766 M Di Madinah. Nama Barzanji dinisbatkan daerah Barzinj yang sekarang masuk ke dalam wilayah Kurdistan.

Kitab Barzanji merupakan sebuah karya seni satra yang memuat kehidupan Nabi Muhammad SAW. Mulai dari masa-masa sebelum kelahiran, silsilah keturunan, kehidupan masa kanak-kanak, masa remaja, menjadi seorang pemuda, hingga diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Juga menggambarkan sifat-sifat Rasulullah SAW, kepribadiannya yang agung. Perjuangan menyebarkan agama Islam dan lain sebagainya. Semuanya merupakan teladan bagi kaum muslimin. Tidak heran kalau karya sastra berbentuk prosa dan puisi itu sangat digemari di dunia Islam, termasuk Indonesia, sebagai bagian yang menonjol dalam kehidupan beragama tradisional. Bagi mereka yang paham, dengan membacanya dapat meningkatkan iman dan kecintaan kepada Rasulullah SAW, di samping untuk merekatkan ukhuwah islamiyah.

 

DIBA’

Selain akrab dengan Barzanji, warga nahdliyin juga akrab dengan Diba’ bahkan ada tradisi yang disebut Diba’an, yaitu suatu majelis untuk membaca sebuah kitab berbentuk prosa dan puisi dalam bahasa Arab, yang berisi pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, kisah perjalanan, keturunan, dan sifat-sifat mulianya.

Kitab itu dikarang oleh Syekh Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad as-Syaibani al-Yamani az-Zabidi as-Syafi’i. Ia dikenal dengan nama ad-Diba’i. Lahir di Yaman pada bulan Muharram 866 H dan wafat hari jum’at tanggal 12 Rajab tahun 944 H. Dia termasuk penganut Ahlussunnah Waljamaah.

Di tengah bacaan Diba’ terdapat kisah penyambutan rombongan Muhajirin yang tengah memasuki kota Madinah. Para peserta Diba’an biasanya turut berdiri dan membayangkan turut serta menyambut kedatangan Rasulullah SAW, di saat membaca kalimat Mahallul Qiyam. Acara seperti itu dinamakan Srokalan.

 

SHALAWAT BADAR

Shalawat Badar bagaikan’’lagu wajib’’ bagi Nahdhatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW dan Ahli Badar ( para Shahabat yang mati syahid dalam perang badar ). Berbentuk syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas.

Shalawat Badar digubah oleh Kiai Ali Mansur, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Siddiq Jember, pada tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat  itu menjabat sebagai kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama. Proses terciptanya shalawat ini penuh dengan misteri dan teka-teki.

Konon, pada suatu malam, ia tidak bisa tidur, hatinya merasa gelisah karena terus menerus memikirkan situasi politik yang kacau. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiailah pesaing utama PKI di tempat itu.

Sambil merenung, Kiai Ali terus memainkan penanya, di atas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa Arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair sejak masih belajar di pesantren Lirboyo, Kediri.

Kegelisahan Kiai Ali berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya dia bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu Rasulullah SAW. Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab : ‘’ itu ahli badar, ya Akhi !’’. Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang ke rumahnya sambil membawa beras, daging, dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan mempunyai hajat mantu. Mereka bercerita, bahwa pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi oleh berjubah putih yang memberitahukan di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

‘’Siapakah orang berjubah putih itu?’’. Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak Kiai Ali tanpa jawab. Namun malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa.

Menjelang matahari terbit, serombongan habib berjubah putih-hijau didampingi habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang, Jakarta, datang ke rumah Kiai Ali Mansur. Setelah berbincang sebentar, Habib Ali menanyakan topic lain yang tidak diduga, yaitu menanyakan syair shalawat yang telah ia tulis. Kiai Ali terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam. Namun ia memaklumi, mungkin itulah karamah yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Segera saja Kiai Ali mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahanya semalam, lalu melagukannya dihadapan mereka. Secara kebetulan Kiai Ali juga memiliki suara yang bagus. Di tengah alunan suara Shalawat Badar itu para habib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru.

Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dikumandangkan Kiai Ali Mansur, Habib Ali segera bangkit. ‘’ Ya Akhi!’ Mari kita perangi Genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar !’’ serunya dengan nada mantap. Setelah Habib Ali memimpin do’a, lalu rombongan itu memohon diri. Sejak saat itu terkenallah Shalawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI.

Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama  (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan secara luas oleh Kiai Ali Mansur. KH. M. Syamsuddin al-Aly

6 thoughts on “Arti Penting Shalawat Dan Maulid Nabi III (habis)

    azmi

    (April 6, 2013 - 21:05)

    Allohumma sholli ala sayyidina muhammad……
    Masya Alloh…. Begitu besarnya peran sholawat badar….

    firdaus

    (April 8, 2013 - 13:30)

    smg kita jadi ahli sholawat dan cinta rosul

    azmi

    (April 8, 2013 - 21:03)

    Amin amin amin….

    abrori

    (April 16, 2013 - 09:32)

    Ini yang selama ini saya pingin tahu jawabannya..
    Terimakasih ustadz..!

    Masnun Tholab

    (Oktober 10, 2013 - 04:45)

    Do’a yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghilangkan kesusahan dan kesedihan:
    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسْلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil serta dari tidak mampu membayar utang dan dari penguasaan orang lain.” (HR. Bukhari no. 2679 ; Fathul Baari no. 2893).

    Do’a ini bisa dibaca kapan saja, baik di dalam shalat maupun diluar shalat, dan tidak ditentukan jumlahnya.

    Lasykar

    (Oktober 10, 2013 - 14:56)

    Alhamdulillah…. Akhina Masnun Tholab? bukankah dulu kita pernah bersua dalam diskusi tahlil? kami meyakini bahwa Doa adalah hal yang di sunnahkan. baik nanti yang Ma’tsurah/datang dari Nabi atau bukan dari Nabi. kesemuanya telah gamblang dalam kutubussalaf (Seperti Doa Qunut dan Iftitah dari Sahabat Umar). dan masalah penghitungan baik di tentukan atau tidak. juga merupakan khilafiyyah yg masing2 punya dasar. salah satu dasarnya adalah:

    مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَتَيْ مَرَّةٍ فِيْ يَوْمٍ لَمْ يَسْبِقْهُ أَحَدٌ كَانَ قَبْلَهُ وَلاَ يُدْرِكُهُ أَحَدٌ بَعْدَهُ إِلاَّ بِأَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ” قَالَ الْحَافِظُ الْهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ إِلاَّ أَنَّهُ قَالَ: فِيْ كُلِّ يَوْمٍ” وَرِجَالُ أَحْمَدَ ثِقَاتٌ.

    “Barang siapa membaca: “La Ilaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak dua ratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorangpun sebelumnya yang bisa mendahuluinya dan tidak ada seorang-pun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang melakukan amal yang lebih afdlal darinya”. (Al-Hafizh al-Haytsami berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabarani. Hanya saja dalam riwayat ath-Thabarani lafazhnya adalah “Fi Kulli Yaum…”. Dan perawi-perawi riwayat Ahmad adalah orang-orang tsiqat (Orang-orang terpercaya).

    Jadi kami punya kesimpulan. mungkin ada sebagian yg tidak berpendapat. dan kami sudah mengetahui. atau yang sependapat. dan Insya Allah Kamipun sudah mengetahui. tinggal kita bersikap dewasa saja. kita jadikan Islam Rahmatan Lil ‘alamin. dengan mengakomodasi semua Khilaf yang ada. bagaimana Mas Masnun?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.