AL QUR’AN VS AL HADIST menyikapi perselisihan Umat

Bismillah…..

APAKAH DALAM MENYIKAPI PERBEDAAN UMAT AL QUR’AN DAN AL HADIST TERJADI KONTRADIKSI?

Dengan sentilan Indah Imam Baidlowi dalam tafsirnya berkata:

تفسير البيضاوي – (ج 1 / ص 374)

{وَلاَ تَكُونُواْ كالذين تَفَرَّقُواْ واختلفوا} كاليهود والنصارى اختلفوا في التوحيد والتنزيه وأحوال الآخرة على ما عرفت. {مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ البينات} الآيات والحجج المبينة للحق الموجبة للاتفاق عليه. والأظهر أن النهي فيه مخصوص بالتفرق في الأصول دون الفروع لقوله عليه السلام « اختلاف أمتي رحمة » ولقوله عليه الصلاة والسلام « من اجتهد فأصاب فله أجران ومن أخطأ فله أجر واحد » {وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ}.

Artinya: (dalam Firman Alloh SWT, QS Ali ‘Imron 105 yang artinya:) {“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih”} seperti Yahudi dan Nasrani mereka berbeda dalam tauhid, penyucian dan hal-hal yang berkaitan dengan akhirat, sesuai yang aku tahu {“sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.”} yakni ayat-ayat dan dalil-dalil yang menjelaskan kebenaran yang wajib diikuti. Menurut qoul Adzhar larangan dalam ayat ini dikhususkan perbedaan dalam Akidah pokok (ke-Esa-an Alloh) bukan masalah furu’ (cabang) karena adanya sabda Nabi ‘alaihisSalaam “perbedaan dalam umatku adalah rahmat” dan sabda Nabi ‘alaihisSholatu wasSalaam “Barangsiapa ber-ijtihad, kemudian benar maka mendapat dua pahala, dan yang keliru mendapat satu pahala” {“mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,”}.

Dan Imam Munawi dalam faidlur Qodir menjelaskan maksud Umat dalam hadist Ikhtilafu Ummati Rohmatun, serta menerangkan penyelarasan ayat-ayat Al Qur’an yang terkesan bertentangan dengan hadist tersebut, sebagai berikut:

فيض القدير – (ج 1 / ص: 270-271)

}اختلاف{ افتعال من الخلف وهو ما يقع من افتراق بعد اجتماع في أمر من الأمور ذكره الحراني }أمتي{ أي مجتهدي أمتي في الفروع التي يسوغ الاجتهاد فيها إلى أن قال… }فإن قلت{ هذا كله لا يجامع نهى الله تعالى عن الاختلاف بقوله تعالى * ]واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا[ * وقوله تعالى * ]ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات[ * الآية

}قلت{ هذه دسيسة ظهرت من بعض من في قلبه مرض وقد قام بأعباء الرد عليه جمع جم منهم ابن العربي وغيره بما منه أنه سبحانه وتعالى إنما ذم كثرة الاختلاف على الرسل كفاحا كما دل عليه خبر “إنما أهلك الذين من قبلكم كثرة اختلافهم على أنبيائهم” وأما هذه الأمة فمعاذ الله تعالى أن يدخل فيها أحد من العلماء المختلفين لأنه أوعد الذين اختلفوا بعذاب عظيم والمعترض موافق على أن اختلاف هذه الأمة في الفروع مغفور لمن أخطأ منهم فتعين أن الآية فيمن اختلف على الأنبياء فلا تعارض بينها وبين الحديث وفيه رد على المتعصبين لبعض الأئمة على بعض وقد عمت به البلوى وعظم به الخطب إلى أن قال… وإنما وضعت المناظرة لكشف الحق وإفادة العالم الاذكى العلم لمن دونه وتنبيه الأغفل الأضعف…

Artinya: (lafadz) {اختلاف} mengikuti wazan افتعال dari masdar الخلف yakni dari pengertian perpecahan setelah adanya persatuan tentang beberapa hal, ini menurut Imam Kharoni. (sedangkan maksud dari lafadz) {Umatku}yakni para Mujtahid umatku di dalam furu’-furu’ (cabang) yang boleh di ijtihadi (menjadi ranah ijtihad). Sampai perkataan…

{Apabila engkau berkata:} “semua ini (baik hadist maupun qoul ulama) tidak bisa selaras dengan larangan perbedaan dalam firman Alloh Ta’ala: [Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. QS Ali Imron 103] dan firman Alloh Ta’ala: [Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.QS. Ali Imron 105]”.

{Aku Menjawab:} Ini adalah merupakan tipu muslihat dari sebagian orang yang hatinya sakit, sangat banyak ulama yang benar-benar mendatangkan sangkalan yang berbobot, seperti Imam Ibnu Arobi. Sebagian sangkalan tersebut adalah: Sesungguhnya Alloh SWT. Hanya mencela banyaknya perbedaan (baca:penentangan) atas Rosul dengan memerintah berhenti (melakukan perbedaan pada rosul), seperti yang tersirat dalam hadist “Sesungguhnya rusaknya orang-orang sebelummu karena banyak melakukan perbedaan (penentangan) atas nabi-nabi mereka”. Adapun Umat ini terjaga atas perlindungan Alloh Ta’ala dari ulama-ulama yang berbeda (dari Nabi Muhammad SAW.), karena Alloh SWT. mengancam orang-orang yang menentang Nabi SAW. dengan Adzab yang pedih. Sedangkan orang yang saling bertentangan itu sesuai dengan (makna hadist diatas ibid) “bahwa sesungguhnya perbedaan pada umat ini didalam furu’ adalah sesuatu yang diampuni bagi yang melakukan kesalahan”. Maka Jelaslah sesungguhnya ayat tentang perbedaan dengan para Nabi tidaklah bertentangan dengan Hadist (Ikhtilafu Ummati Rohmatun), dan hal tersebut adalah sangkalan bagi orang yang fanatik pada sebagian Imam mengalahkan lainnya, dan Musibah/ujian ini benar-benar banyak terjadi serta banyak sekali pembahasan (tentang ini).

Sampai perkataan… terjadinya perdebatan antara para ulama hanyalah untuk menyingkap sebuah kebenaran, sebuah pengajaran ilmu dari orang yang alim, yang cerdas kepada orang yang sebawahnya dan mengingatkan pada orang yang pelupa serta sangat lemah,

Muhimmah: Jadikanlah ketidak beragaman sesuatu yang indah, seperti kilauan permata yang indah karena perbedaan warna di dalamnya, dan Indahnya pelangi karena keelokan perbedaan warnanya.

Wallohu a’lam

DI SARIKAN DARI KITAB ARBAIN AL FATTAH

Sie Pendidikan PP. AL FATTAH

24 Februari 2013

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *