Abu Nawas

(Imam Hasan Bin Haani’ Abu ‘Aliy AL Hakamiy W.145 H./762 M)

Konon, pada masa mudanya. Abu Nawas adalah pemuda yang Nakal, Liar dan menggemaskan. Suka mabuk-mabukan!!. Bahkan, saking ahlinya. Kalau ada orang yang penasaran dengan kwalitas minuman keras. Mereka “sowan” kepadanya. Meminta “pencerahan” (1).

 

*****

Tapi, ada sedikit cerita yang terselip. Ternyata. Di balik “kenakalannya”. Beliau mempelajari Ilmu-Ilmu Pilar dari Ulama-ulama terkemuka. Ilmu Hadist dari Imam Hammad bin Zaid dan Imam Abdurrahman bin Ziyaad, Imam Mu’tamar bin Sulaiman, Imam Yahya bin Saa’id Al Qathaan, Imam Azhar bin Sa’d asSamaan. Ilmu al-Qur’an dari Imam Ya’qub Al Khadlramiy. Ilmu Gramatika Arabik (Nahfu-Sharaf) dari Imam Abu Zaid Al Anshari dan Imam Abu Ubaidah serta mempelajari metode Imam Syibawaih sang master Ilmu alat.

 

Sehingga tidaklah mengherankan jika ada yang mengatakan: “Imam Syafi’i adalah Ahli Syair yang tertutupi kealiman Ilmu Fiqhnya. Sedangkan Abu Nawas adalah Ahli Fiqh yang tertutupi Kepandaian Syairnya”. (2)

 

KHUSNUL KHAATIMAH

——–

 

Imam Muhammad bin Nafi’ berkisah, “Dulu, waktu muda aku dan dia (abu Nawas) adalah kawan karib. Namun, terpisah sekian tahun lamanya. Karena kami masing-masing berkelana. Suatu waktu aku mendengar kabar bahwa dia telah meninggal dunia. Sangat berduka hati ini. Di tengah duka yang hebat aku rebahkan badan ini. Di antara sadar dan tidak, antara tertidur dan terjaga. Aku bermimpi bertemu dia:

 

“Abu Nawas?”, sapaku.

 

“Tolong, jangan panggil aku dengan nama Julukanku”, pintanya.

 

“Hasan bi Haani’?”.

 

“Betul”.

 

“Apa yang Allah perbuat padamu?”.

 

“Allah mengampuniku sebab Bait-bait Syair karanganku yang aku letakkan di bawah tumpukan bantal keduaku”.

 

Setelah terbangun dari tidur, aku bergegas menuju kediamannya. Melihatku datang, sanak familinya menangis, Susah. Sejenak setelah reda kesusahan itu aku bertanya pada keluarganya:

 

“Apakah sebelum meninggal. Saudaraku (Abu Nawas) sempat melantunkan sebuah Syair?”

 

“Kami tidak tahu. Hanya saja, sebelum meninggal. Beliau menyuruh kami untuk mengambilkan pena dan kertas. Apa yang di tulispun kami juga tidak tahu”.

 

“Bolehkah aku memasuki kamarnya?”

 

“Silahkan..”.

 

Setelah sampai di kamarnya. Aku melihat tumpukan pakaian yang masih rapi, belum terusik pasca kematiannya. Sekilas aku melihat tumpukan bantal. Aku mendekat dan mengangkat tumpukan bantal pertama. Tidak kutemukan apapun. Kemudian aku mengangkat bantal kedua. Dan kutemukan secarik kertas yang bertuliskan Bait Syair:

 

“Yaa Tuhanku, Dosa-dosa besarku menumpuk banyak ** Namun, aku tahu. Sesungguhnya ampunanmu lebih besar”

 

“Andai orang-orang baik saja yang bisa mengharapkanmu ** Bagaimana Do’a dan harapan ORANG-ORANG YANG BERLUMUR DOSA?”.

 

“Seperti perintahMu. Dengan kerendahan hati Aku berdo’a padamu. Wahai Tuhanku ** Apabila kau tampik tanganku. Siapa lagi yang mengasihiku?:”

 

“Aku tiada punya perantara padaMu. Kecuali hanya Harapan ** dan keindahan AmpunanMu. Oleh karena itulah aku hanya berserah padaMu dan Sungguh…, aku adalah Muslim” (3).

 

——–

——–

Karena kekaguman yang mendalam. Syaikh Ahmad bin Ali Abu Bakar Al Khathiib AL Baghdaadi, pengarang Kitab Tarikh Baghdad. Membuat biografi Imam Abu Nawas begitu panjangnya. Sampai Tujuh lembar !!. (4) Dan Sangat Banyak ulama yang menyitir Syair-syair atau ucapan beliau. Seperti Imam Ibnu Katsir, Imam Qurthubi, Imam Al Munawi, Imam Sulaiman AlJamal, Imam Fakhruddin Ar Razi dan Masih Banyak Lainnya.

Lahumul Faatihah…..

Wallahu A’lam

Admin Web/FB alfattahpule.com

Semoga bermanfaat

 

——–

Catatan Kaki:

(1) Lisaanul Miizaan Vol 3 Hal 179 Syaamilah

(2) Al Waafi bil Wafyaat Vol 4 Hal 217 Taarikh Baghdaad Vol 7 Hal: 436 Syaamilah

(3) Taarikh Baghdaad Vol 7 Hal: 448 Syaamilah

(4) Al Waafi bil Wafyaat Vol 4 Hal 217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *