ADAKAH BERBOHONG YANG DIPERBOLEHKAN DALAM ISLAM ??

Hari-hari ini. Di berita-berita Televisi, MEDSOS, dan koran lagi viral dengan kasus HOAX Oleh seorang aktifis perempuan ternama. Yang ternyata dia benar membuat berita bohong kepada publik, dan sekarang Alhamdulillah penyebarnya sudah tertangkap Polisi. Terimakasih ya Bapak-Bapak Polis. Terus cegah dan hilangkan berita-berita HOAX dari negeri tercinta NKRI ini..

Tapi apakah kalian tau?? Bahwa dalam Islam ternyata ada beberapa kebolehan untuk berbohong.. Pada saat kondisi dan situasi apa saja hukum dalam berbohong??

Seperti keterangan dari Syaikh Imam Ghozali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin :

1. Setiap tujuan yang benar, yang masih dimungkinkan untuk tidak berbohong dalam mencapainya, maka berbohong hukumnya HARAM

2. Setiap tujuan yang benar, apabila dalam mencapainya diharuskan untuk berbohong, maka berbohong hukumnya MUBAH

3. Apabila berbohong hukumnya wajib, maka melakukannya juga WAJIB. Seperti kekita berbohongnya orang yang tau persembunyian seseorang yang akan dibunuh orang dzolim. maka berbohong hukumnya wajib.

Di antaranya hal-hal yang diperbolehkan untuk berbohong adalah :

1. Bukan termasuk orang yang berbohong yaitu orang yang bertujuan untuk pemperbaiki orang yang sedang bermusuhan,

2. Berbohongnya suami untuk istrinya atau istri untuk suami karena tujuan untuk melestarikan hubungannya.

3. Berbohongnya pasukan karena untuk mengelabuhi musuh dalam peperangan.

4. Berbohong ketika sedang menjadi pelindung (Menjadi tempat persembunyian) seseorang yang akan didzolimi.

Atau ditanya orang dholim tentang barang titipan yang ingin diambil, maka ia wajib mengingkarinya walaupun dengan cara berbohong, bahkan jika ia diminta bersumpah maka ia juga wajib bersumpah dan bertauriyah (Menyelewengkan/mengalihkan pembicaraan)

Dan ketika tujuan peperangan atau mendamaikan orang yang bersengketa atau menenangkan hati orang yang menjadi korban kejahatan tidak bisa hasil kecuali dengan cara berbohong, maka berbohong dalam keadaan tesebut di perbolehkan.

Dasar Pengambilan :

– Ihya’ Ulumiddin III / 134 Cet. Daru Ihyail-Kutuub al-‘Araabiyyah

– فنقول الكلام وسيلة إلى المقاصد فكل مقصود محمود يمكن التوصل إليه بالصدق والكذب جميعا فالكذب فيه حرام وإن أمكن التوصل إليه بالكذب دون الصدق فالكذب فيه مباح إن كان تحصيل ذلك القصد مباحا وواجب إن كان المقصود واجبا كما أن عصمة دم المسلم واجبة

– Fathul Mu’in Hamisy I’anatut Tholibin III / 247 – 248 Cet. Thoha Putra Semarang :

– (فائدة) الكذب حَرام، وقد يجب: كما إذا سأل ظالِم عن وديَعة يريدُ أخْذها فيَجِبُ إنْكارَها وإن كَذَب، ولهُ الحَلْفُ عليه مع التوْرِية. وإذا لمْ يُنكِرْها ولم يَمتَنِعْ من إِعلامِه بِها جهده ضُمِن، وكذا لو رَأى مَعْصوماً اختفى من ظالِم يُريدُ قَتْله. وقد يجوزُ كما إذا كان لا يتم مقصودَ حربٍ وإصلاحَ ذاتَ البَيْنِ وإرْضاءَ زَوْجَته إلا بالكذِب فمباحٌ

#santrisobow

Wallahu A’lam bis-Shawaab
Admin Web/FB AlFattah Pule
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.